Di salah satu ruangan yang terletak jauh di dalam tanah, dipenuhi kaca kristal di hampir setiap sudut hingga siapa pun yang memasukinya sulit membedakan mana pantulan dan mana kenyataan, seorang wanita muda tampak duduk dengan tenang. Usianya terlihat sekitar dua puluhan, wajahnya memesona dan penuh pesona. Ia sedang fokus memperhatikan air menggenang di sebuah cekungan batu di atas meja. Tak seorang pun akan menyangka bahwa wanita ini sesungguhnya telah hidup ratusan tahun. Penampilannya yang muda hanyalah ilusi, diperoleh dengan menyerap energi kehidupan dari para gadis muda lain, melalui darah yang diminumnya.

Di dalam pantulan air itu, tergambar sosok perempuan cantik yang duduk merenung. Wajahnya muram, matanya memancarkan kesedihan yang dalam. Ia memikirkan keluarganya yang belum juga ditemukan. Hatinya juga dipenuhi kekecewaan lama yang terus ia pendam, perih karena diabaikan oleh Lynx. Padahal selama ini ia telah tulus merawat Lynx, sosok yang pernah begitu berjasa bagi keluarganya, terutama suku Yaksa. Ia bahkan berterima kasih karena Lynx telah memulihkan luka yang merusak wajahnya, luka yang dulu diberikan oleh kawanan perampok. Namun, semua rasa itu kini berubah menjadi kesedihan. Keinginannya untuk hidup berdua dengan Lynx terasa menjauh, seperti harapan yang perlahan memudar.

"Anak manis, jangan kamu tahan sakit hatimu. Semakin dalam kamu merasakannya, semakin berharga dirimu bagiku." Suara wanita itu terdengar lembut namun dingin, diiringi tawa pelan yang mengalun seperti bisikan angin malam. Dialah wanita yang biasa dipanggil nyonya oleh para pengikutnya.

"Sudah waktunya aku mengunjungimu." Ia melangkah pelan lalu berdiri di depan salah satu kaca besar di ruangan itu. Dengan gerakan anggun namun tajam, ia mengangkat tangan kiri dan menggunakan kuku jari tengahnya yang panjang untuk menggores telapak tangan sendiri hingga darah mengalir.

Dengan jemari yang kini berlumur darah, ia mulai melukis formasi pada permukaan kaca. Goresan-goresan itu membentuk pola yang rumit, jauh berbeda dari formasi biasa yang dikenal para kultivator. Setelah selesai, ia merapalkan mantra dengan suara rendah yang bergema lembut di seluruh ruangan.

Pantulan di kaca itu mulai bergetar. Beberapa detik kemudian, muncul bayangan seorang perempuan jelita yang tengah duduk sendirian di tepi danau buatan di belakang Paviliun Bulan Perak. Wajahnya murung, matanya kosong menatap riak air yang tenang.

Di Paviliun Bulan Perak, Jelita duduk termenung. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya yang tergerai, sementara matanya menatap kosong ke arah danau buatan. Ingatannya melayang pada Lynx. Tiga tahun hidup sebagai suami istri bersamanya telah meninggalkan jejak yang dalam di hatinya, luka yang belum juga sembuh.

"Kepala suku, aku bahagia melihat ingatanmu pulih. Tapi... andai bisa kembali ke masa lalu, aku ingin kamu tetap kehilangan ingatan. Supaya aku bisa terus berada di sampingmu," bisiknya pelan. Suaranya lirih, nyaris tertelan oleh desir angin. Ada getir dalam senyum kecil yang ia paksa muncul.

Tiba-tiba, suara asing terdengar dari belakang. Tenang, namun mengandung ketajaman seperti pisau yang belum diasah.

"Apa yang gadis muda sepertimu pikirkan sampai tampak begitu sedih?"

Jelita langsung berdiri dengan sigap. Dalam satu gerakan halus namun cepat, pedangnya telah terhunus. Sejak Lynx memberikan padanya rahasia ilmu Jade Serene Flow dan dengan tekun, dia melatihnya dengan penuh semangat, kemampuannya meningkat pesat. Meski saat ini ia masih berada di ranah Forging Qi tingkat tiga, tekniknya memungkinkan ia melawan lawan yang berada tiga tingkat di atasnya.

Biasanya, bahkan dalam keadaan melamun, ia masih mampu merasakan kehadiran orang lain. Tapi kali ini, suara itu muncul tanpa tanda. Tidak ada tekanan, tidak ada jejak langkah. Itu hanya berarti satu hal, orang ini berada jauh di atasnya dalam tingkatan kekuatan.

Matanya menyipit saat ia berbalik. Sosok wanita berpakaian serba hitam berdiri di hadapannya. Cantik. Dingin. Tatapannya tajam namun tanpa emosi. Tidak ada senjata terlihat di tangan atau pinggangnya.

"Siapa dia? Wajahnya... rasanya aku pernah melihatnya."

Pikiran Jelita bergolak. Ia tetap memegang erat pedangnya, berjaga-jaga, sementara pikirannya mencoba mengingat. Wajah itu, ekspresi itu... terasa begitu familiar, Jelita yakin dia pernah melihatnya.

"Gadis cantik, kita pernah bertemu. Apakah kamu tidak mengingatku?" Wanita itu berbicara dengan nada lembut yang menyimpan sesuatu. Senyum misterius menghiasi bibirnya saat ia melangkah perlahan mendekati Jelita.

Anehnya, Jelita tidak bergerak. Tidak ada rasa takut atau curiga. Justru ada ketenangan aneh yang merayapi tubuhnya, seolah wanita di depannya membawa kedamaian yang asing namun menenangkan. Ia hanya berdiri diam, membiarkan wanita itu mendekat.

Dengan gerakan pelan, wanita itu mengangkat tangannya dan mengelus pipi Jelita menggunakan kukunya yang panjang dan tajam. Sentuhannya dingin, namun tidak menyakitkan. Sesaat kemudian, lidahnya menjilat bibirnya sendiri dengan gerakan perlahan, masih menatap Jelita.

"Bukankah kamu dan yang lainnya memberi nama tempat kita dengan sebutan planet Surya?"

Mata Jelita melebar. Suara itu, senyum itu... Ia tahu siapa wanita ini.

"Kamu..." bisiknya, nyaris tak terdengar. Napasnya tercekat.

Mira. Dia adalah keturunan para penyihir.

Ingatan Jelita melompat ke masa lalu, saat ia berada di planet Surya. Saat itu, ia sedang mencari seorang wanita dari suku Yaksa yang menghilang secara misterius. Setelah berusaha mencari, mereka berhasil menemukannya, tubuhnya tergeletak tanpa nyawa, wajahnya penuh rasa sakit yang tak terlukiskan.

Dan wanita ini, Mira muncul di sana. Dengan suara tenang dan datar, ia mengatakan bahwa wanita itu dibunuh oleh para suku Monrest. Namun rasa penasaran masih muncul dihatinya, karena baru kali ini menemukan jasad yang terbunuh terlihat sangat kesakitan tanpa luka fisik.

Namun hanya beberapa hari setelah itu, salah satu tetua menceritakan sesuatu yang membuat semuanya terasa janggal. Tentang keturunan penyihir yang berasal dari dimensi lain. Tentang keanehan mereka, bahwa wajah keturunan para penyihir tidak jauh berbeda dengan wajah leluhurnya. Mereka selalu terlihat sama persis dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ciri yang jelas, namun tidak pernah ada yang benar-benar memahami mereka. Terlalu misterius. Terlalu tersembunyi.

Kini, penyihir itu berdiri di hadapannya. Senyumnya tak berubah. Dan entah mengapa, tubuh Jelita masih belum mampu bergerak.

***

Di tempat lain, markas yang diculik kini melayang di atas hamparan es luas, kutub utara bumi. Angin dingin menggigit dan suara gemuruh es retak terdengar samar ketika bangunan itu perlahan diturunkan oleh kekuatan spiritual Lynx.

Dengan hati-hati, ia mengarahkan struktur raksasa itu hingga mendarat dengan stabil di atas daratan beku. Agar stabil, Lynx menggunakan laser tak kasat mata untuk membuat pondasi yang sesuai dengan struktur bangunan. Energi yang mengelilingi bangunan itu menghilang perlahan.

"Void Cleaving Slash!"

Setelah merasakan tidak adanya getaran dan dengan persepsinya, Leena merasakan lokasi mereka sudah berubah, Leena mengayunkan energi pedangnya beberapa kali untuk dapat menerobos keluar melalui dinding kaca yang sangat kuat. Karena pemindahan yang dilakukan Lynx, sistem kelistrikan bangunan tersebut mati total dan menghidupkan lampu darurat.

Leena menatap sekeliling, lalu mendekati Lynx yang berdiri diam di tepi bukit es. "Kenapa kau membawanya ke sini?" tanyanya dengan nada bingung. "Bukankah ini akan membuat penduduk bumi sadar bahwa kita ada? Bahwa dunia kita nyata?"

Lynx tetap menatap cakrawala bersalju, angin menerpa jubahnya. "Justru itu maksudku," katanya tenang. "Aku ingin penduduk di bumi ini melihat, dan mengerti bahwa mereka telah menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya dia ganggu, teman-temanku. Ini adalah peringatan. Juga satu-satunya cara agar mereka tidak lagi datang ke dimensi para kultivator."

Leena terdiam. Ia mulai menyadari bahwa amarah Lynx bukan sekadar luapan emosi, melainkan bentuk keputusan yang dibuat karena tidak ingin terjadi kekacauan diantara dua dimensi berbeda.

Sementara itu, Ratih dan Kanaya yang menyusul keluar terduduk tak jauh dari mereka, tubuh mereka gemetar melihat kenyataan yang terjadi di depan mata mereka. Entah karena udara dingin yang menggigit, atau karena kenyataan bahwa seorang pria barusan memindahkan markas militer seberat ribuan ton dengan sangat mudah.

"Ini… mustahil…" bisik Kanaya, pelan, matanya masih membulat. "Kekuatan macam apa ini?"

Ratih memeluk tubuhnya, napasnya mengepul di udara. "Kalau dia bisa melakukan ini… kita sama sekali bukan tandingannya…"

Leena menoleh, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran. "Lynx, apakah kau menemukan Lala?"

Lynx mengangguk pelan. "Dia ada di dalam. Terikat di salah satu ruangan bawah. Saat aku menerobos ke dalam tanah, aku menemukannya dengan Mata Langit. Itu sebabnya aku merasa sangat marah. Mereka… memperlakukannya seperti binatang uji coba."

